Beberapa waktu ini saya mulai belajar merapikan data inventaris kantor. Ceritanya saya kebetulan diminta untuk ikut membantu pendataan barang. Awalnya saya pikir pekerjaannya sederhana. Paling hanya mencocokkan data yang sudah ada dengan barang yang ada di ruangan.
Ternyata setelah mulai dikerjakan, kondisinya tidak sesederhana itu.
Data utama memang sudah ada. Tetapi ketika dibandingkan dengan kondisi nyata di ruangan, ternyata banyak yang belum sesuai. Ada barang yang di data tercatat berada di lokasi tertentu, tetapi fisiknya ada di ruangan lain. Ada barang yang labelnya masih ada, tetapi ketika dicari di database utama tidak langsung ditemukan. Ada juga barang yang secara fisik ada, tetapi informasinya belum cocok dengan data utama.
Dari situ saya mulai berpikir, kalau langsung ingin merapikan semuanya sekaligus, sepertinya akan berat. Jadi saya coba mulai dari langkah yang paling sederhana dulu, yaitu melakukan pendataan per ruangan.
Alurnya saya buat pelan-pelan:
- Cek barang langsung ke tiap ruangan.
- Catat manual dulu di tabel/form pendataan.
- Masukkan hasil catatan ke Google Spreadsheet.
- Cocokkan dengan database utama.
- Tandai data yang sudah diproses.
- Catat juga data yang tidak ditemukan atau perlu dicek ulang.
Jadi tulisan ini saya buat sebagai catatan belajar saya sendiri. Supaya kalau nanti lupa, saya bisa buka lagi.
- Gambaran Alur Kerja
- Penomoran Ruangan
- Struktur Sheet yang Saya Buat
- Sheet Master
- Sheet Daftar_Ruangan
- Sheet Cek_Fisik
- Membuat Dropdown Kode Ruangan
- Membuat Nama Ruangan Otomatis Muncul
- Catatan Koma, Titik Koma, dan Setting Wilayah
- Membuat Nama Ruangan Otomatis untuk Semua Baris
- Membuat Sheet Per Ruangan
- Menarik Data dari Master
- Ketika Data Tidak Ada di Master
- Menandai Data di Master Jika Sudah Diproses
- Memberi Warna Berbeda untuk Tiap Sheet Ruangan
- Alur Kerja yang Saya Pakai
- Kesimpulan Sementara
Gambaran Alur Kerja
Sebelum masuk ke Google Spreadsheet, proses awal yang saya lakukan sebenarnya masih manual.
Saya mengecek barang langsung ke tiap ruangan, lalu mencatatnya di tabel/form pendataan sederhana. Jadi sumber input awalnya bukan langsung dari database utama, tetapi dari hasil pengecekan fisik di ruangan.
Misalnya saya masuk ke satu ruangan, lalu mulai mencatat barang-barang yang ada di sana. Saya catat nomor atau identitas item yang masih terbaca, nama item jika perlu, kondisi item, dan keterangan lain yang dianggap penting.
Setelah hasil catatan dari ruangan terkumpul, barulah data tersebut saya masukkan ke Google Spreadsheet.
Tujuannya bukan hanya mengetik ulang data, tetapi untuk membandingkan antara:
- item yang benar-benar ada di ruangan,
- item yang tercatat di database utama,
- dan apakah lokasi item di data sudah sesuai dengan kondisi nyata.
Dengan cara ini, saya tidak hanya bergantung pada data lama. Database utama tetap dipakai sebagai pembanding, tetapi kondisi nyata di ruangan tetap menjadi dasar pengecekan awal.
Penomoran Ruangan
Sebelum membuat sheet per ruangan, saya sudah lebih dulu memberi nomor untuk tiap ruangan.
Tujuannya sederhana, agar proses pendataan lebih mudah dilacak.
Misalnya:
- Ruang nomor 1 saya beri nama
1RuangRapat - Ruang nomor 38 saya beri nama
38RuangServer
Jadi angka 1, 2, 38, dan seterusnya itu bukan berarti urutan saya menginput data di spreadsheet. Angka itu adalah nomor ruangan yang memang sudah saya buat sebelumnya untuk memudahkan pendataan.
Dalam praktiknya, input data tidak harus dimulai dari ruangan nomor 1.
Misalnya ruangan nomor 38 lebih dulu selesai dicek secara manual, maka saya bisa input dulu ke sheet 38RuangServer. Kalau ruangan nomor 1 selesai belakangan, baru nanti saya input ke sheet 1RuangRapat.
Jadi urutan input mengikuti ruangan mana yang sudah selesai didata di lapangan, bukan harus urut dari nomor ruangan terkecil.
Ini penting supaya pekerjaan lebih fleksibel. Karena dalam proses cek fisik, kadang ruangan tertentu lebih mudah diakses, sedangkan ruangan lain harus menunggu waktu kosong, menunggu kunci, atau menunggu penanggung jawab ruangannya.
Struktur Sheet yang Saya Buat
Di Google Spreadsheet, saya membuat beberapa sheet.
Kurang lebih strukturnya seperti ini:
MasterDaftar_RuanganCek_Fisik- Sheet per ruangan, misalnya:
1RuangRapat38RuangServer
Nama sheet saya buat tanpa spasi agar lebih mudah dipakai di rumus. Misalnya saya pakai 1RuangRapat, bukan 1 Ruang Rapat.
Sheet Master
Sheet Master berisi database utama item.
Header-nya bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Saya buat dengan istilah umum saja, misalnya:
- No
- Kode Unit
- Nama Unit
- Kode Item
- ID Item
- Nama Item
- Status
- Brand
- Model
- Kondisi
- Lokasi
- Keterangan
Yang paling penting untuk proses awal ini adalah kolom-kolom berikut:
| Kolom | Isi |
|---|---|
| A | No |
| F | ID Item |
| G | Nama Item |
| I | Brand |
| K | Kondisi |
Kolom No menjadi kunci utama. Jadi ketika saya mengisi nomor di sheet ruangan, data lain seperti nama item, ID item, brand, dan kondisi bisa otomatis ditarik dari sheet Master.
Sheet Daftar_Ruangan
Sheet Daftar_Ruangan saya gunakan untuk menyimpan daftar kode dan nama ruangan.
Formatnya sederhana:
| Kode Ruangan | Nama Ruangan |
|---|---|
| R001 | Ruang Rapat |
| R002 | Ruang Server |
| R003 | Ruang Administrasi |
Misalnya:
- Kolom A = Kode Ruangan
- Kolom B = Nama Ruangan
Data dimulai dari baris 2, karena baris 1 dipakai untuk header.
Contoh rentang datanya:
A2:B40
Sheet ini nanti dipakai sebagai sumber dropdown di sheet Cek_Fisik.
Sheet Cek_Fisik
Sheet Cek_Fisik saya gunakan untuk menampung hasil pengecekan fisik barang di ruangan.
Jadi sebelum data dimasukkan ke sheet ini, saya terlebih dahulu mengecek barang secara langsung di tiap ruangan dan mencatatnya secara manual di tabel/form pendataan.
Setelah itu, hasil catatan tersebut baru saya masukkan ke Google Spreadsheet.
Di sheet Cek_Fisik, saya ingin ketika memilih kode ruangan, maka nama ruangannya otomatis muncul. Ini supaya proses input lebih rapi dan saya tidak perlu mengetik nama ruangan berulang-ulang.
Contohnya seperti ini:
| Kode Ruangan | Nama Ruangan |
|---|---|
| pilih dari dropdown | otomatis muncul |
Dengan cara ini, saya bisa lebih fokus mencatat hasil pengecekan fisik, lalu setelah itu membandingkannya dengan data yang ada di sheet Master.
Bisa dibilang, sheet Cek_Fisik ini menjadi jembatan antara kondisi nyata di ruangan dengan database utama yang sudah ada.
Membuat Dropdown Kode Ruangan
Langkah pertama yang saya buat adalah dropdown untuk kode ruangan.
Tujuannya supaya kode ruangan tidak diketik manual. Kalau diketik manual, kadang ada risiko salah ketik, kelebihan spasi, atau formatnya tidak sama.
Langkahnya:
- Buka sheet
Cek_Fisik. - Blok kolom yang ingin diberi dropdown, misalnya:
A2:A500
- Klik menu:
Data → Validasi data
- Pada bagian kriteria, pilih:
Dropdown dari rentang
- Masukkan rentang sumber data:
Daftar_Ruangan!A2:A40
- Klik selesai.
Setelah itu, kolom kode ruangan di sheet Cek_Fisik sudah memiliki dropdown. Jadi tinggal pilih kode ruangan dari daftar yang tersedia.
Membuat Nama Ruangan Otomatis Muncul
Setelah dropdown kode ruangan berhasil, langkah berikutnya adalah membuat nama ruangan otomatis muncul.
Misalnya di sheet Cek_Fisik:
| Kolom | Isi |
|---|---|
| A | Kode Ruangan |
| B | Nama Ruangan |
Maka di cell B2, saya isi rumus berikut:
=IF(A2="";"";IFERROR(VLOOKUP(A2;Daftar_Ruangan!A:B;2;FALSE);"Tidak ditemukan"))
Setelah rumus ini dipasang, ketika saya memilih kode ruangan di kolom A, nama ruangan akan otomatis muncul di kolom B.
Penjelasan sederhananya:
A2adalah kode ruangan yang dipilih.Daftar_Ruangan!A:Badalah sumber data kode dan nama ruangan.- Angka
2berarti mengambil data dari kolom kedua, yaitu nama ruangan. FALSEberarti pencarian harus cocok persis.IFERRORdipakai supaya kalau data tidak ditemukan, tidak langsung muncul error.
Catatan Penting tentang Koma, Titik Koma, dan Setting Wilayah
Ini salah satu hal kecil yang sempat membuat saya bingung.
Awalnya saya mencoba memasukkan rumus seperti ini:
=IF(A2="","",IFERROR(VLOOKUP(A2,Daftar_Ruangan!A:B,2,FALSE),"Tidak ditemukan"))
Ternyata muncul error.
Setelah dicek, masalahnya bukan pada logika rumusnya, tetapi pada setting wilayah atau locale Google Spreadsheet yang saya gunakan.
Kalau Google Spreadsheet memakai setting Indonesia, biasanya pemisah antarbagian rumus menggunakan titik koma ;, bukan koma ,.
Jadi untuk setting Indonesia, rumusnya menjadi seperti ini:
=IF(A2="";"";IFERROR(VLOOKUP(A2;Daftar_Ruangan!A:B;2;FALSE);"Tidak ditemukan"))
Perbedaannya kecil, tapi cukup penting.
Versi setting Inggris/US biasanya memakai koma:
=VLOOKUP(B2,Master!A:G,7,FALSE)
Sedangkan versi setting Indonesia memakai titik koma:
=VLOOKUP(B2;Master!A:G;7;FALSE)
Jadi kalau rumus terasa sudah benar tetapi tetap error, coba periksa dulu tanda pemisahnya.
| Setting Spreadsheet | Pemisah Rumus |
|---|---|
| Indonesia | titik koma ; |
| Inggris/US | koma , |
Hal yang sama juga berlaku untuk rumus lain seperti IF, IFERROR, VLOOKUP, ARRAYFORMULA, COUNTIF, dan OR.
Contoh rumus format bersyarat dengan setting Indonesia:
=COUNTIF(INDIRECT("'1RuangRapat'!B:B");$A2)>0
Kalau memakai setting Inggris/US, biasanya menjadi:
=COUNTIF(INDIRECT("'1RuangRapat'!B:B"),$A2)>0
Bagi saya, ini pelajaran kecil tapi penting. Kadang kita merasa rumusnya salah, padahal yang salah hanya tanda pemisahnya.
Membuat Nama Ruangan Otomatis untuk Semua Baris
Kalau tidak ingin menarik rumus ke bawah satu per satu, bisa memakai ARRAYFORMULA.
Misalnya di cell B2 sheet Cek_Fisik:
=ARRAYFORMULA(IF(A2:A="";"";IFERROR(VLOOKUP(A2:A;Daftar_Ruangan!A:B;2;FALSE);"Tidak ditemukan")))
Dengan rumus ini, cukup pasang sekali di baris 2. Nanti baris-baris di bawahnya akan otomatis mengikuti.
Tapi ada catatan penting.
Kalau memakai ARRAYFORMULA, maka kolom hasilnya tidak bisa diisi manual di tengah-tengah. Karena seluruh kolom sudah dikendalikan oleh rumus dari baris atas.
Ini nanti menjadi penting ketika ada data yang tidak ditemukan di database utama dan perlu diisi manual.
Membuat Sheet Per Ruangan
Setelah sheet Cek_Fisik mulai rapi, saya lanjut membuat sheet per ruangan.
Contohnya saya membuat sheet:
1RuangRapat
dan juga:
38RuangServer
Sekali lagi, angka di depan nama sheet adalah nomor ruangan yang sudah saya tentukan sebelumnya. Jadi 1RuangRapat artinya ruangan nomor 1, sedangkan 38RuangServer artinya ruangan nomor 38.
Header di sheet ruangan kurang lebih seperti ini:
| No | No Urut Data Utama | Nama Item | ID Item | Brand | Kondisi |
|---|
Kolom pentingnya:
| Kolom | Isi |
|---|---|
| B | No Urut Data Utama |
| C | Nama Item |
| D | ID Item |
| E | Brand |
| F | Kondisi |
Konsepnya begini.
Saya cukup mengisi kolom No Urut Data Utama. Nomor tersebut sama dengan kolom No yang ada di sheet Master.
Setelah nomor diisi, maka data lain akan otomatis muncul dari sheet Master.
Dalam proses input, saya tidak harus mengisi sheet ruangan secara berurutan dari nomor 1. Kalau hasil cek fisik ruangan nomor 38 sudah selesai duluan, saya bisa langsung mengisi sheet 38RuangServer. Nanti kalau ruangan nomor 1 baru selesai dicek, baru saya isi sheet 1RuangRapat.
Jadi spreadsheet ini mengikuti alur kerja nyata di lapangan, bukan memaksa harus urut dari awal.
Menarik Data dari Master
Menarik Nama Item dari Master
Di sheet 1RuangRapat, kolom B adalah No Urut Data Utama. Kolom C adalah Nama Item.
Karena di sheet Master, kolom A adalah No dan kolom G adalah Nama Item, maka di cell C2, saya isi rumus:
=IF(B2="";"";IFERROR(VLOOKUP(B2;Master!A:G;7;FALSE);""))
Menarik ID Item dari Master
Untuk kolom D atau ID Item, rumus di cell D2:
=IF(B2="";"";IFERROR(VLOOKUP(B2;Master!A:F;6;FALSE);""))
Menarik Brand dari Master
Untuk kolom E atau Brand, rumus di cell E2:
=IF(B2="";"";IFERROR(VLOOKUP(B2;Master!A:I;9;FALSE);""))
Menarik Kondisi dari Master
Untuk kolom F atau Kondisi, rumus di cell F2:
=IF(B2="";"";IFERROR(VLOOKUP(B2;Master!A:K;11;FALSE);""))
Setelah semua rumus dipasang di baris 2, rumus bisa ditarik ke bawah sesuai kebutuhan.
Versi Otomatis dengan ARRAYFORMULA
Awalnya saya mencoba memakai ARRAYFORMULA, supaya tidak perlu menarik rumus ke bawah.
Untuk Nama Item di C2:
=ARRAYFORMULA(IF(B2:B="";"";IFERROR(VLOOKUP(B2:B;Master!A:G;7;FALSE);"Tidak ditemukan")))
Untuk ID Item di D2:
=ARRAYFORMULA(IF(B2:B="";"";IFERROR(VLOOKUP(B2:B;Master!A:F;6;FALSE);"Tidak ditemukan")))
Untuk Brand di E2:
=ARRAYFORMULA(IF(B2:B="";"";IFERROR(VLOOKUP(B2:B;Master!A:I;9;FALSE);"Tidak ditemukan")))
Untuk Kondisi di F2:
=ARRAYFORMULA(IF(B2:B="";"";IFERROR(VLOOKUP(B2:B;Master!A:K;11;FALSE);"Tidak ditemukan")))
Dengan cara ini, semua baris otomatis ikut terisi ketika kolom No Urut Data Utama diisi. Tapi setelah dipakai, ternyata ada kasus khusus.
Ketika Data Tidak Ada di Master dan Perlu Diisi Manual
Saat mulai pendataan, saya menemukan kasus seperti ini.
Identitas item ada secara fisik, tetapi ketika dicari di database utama, datanya tidak ditemukan. Bisa jadi karena data belum diperbarui, lokasinya belum sesuai, atau memang perlu dicek ulang.
Masalahnya, kalau kolom memakai ARRAYFORMULA, saya tidak bisa mengetik manual di kolom tersebut. Ketika dipaksa diisi manual, muncul error karena cell itu bagian dari hasil array.
Dari sini saya belajar, untuk pekerjaan pendataan inventaris yang datanya belum sepenuhnya rapi, lebih fleksibel menggunakan rumus biasa per baris, bukan ARRAYFORMULA.
Jadi solusinya:
- Hapus rumus
ARRAYFORMULA. - Pakai rumus biasa di baris 2.
- Tarik rumus ke bawah.
- Jika ada data yang perlu diisi manual, hapus rumus di cell tersebut.
- Isi manual sesuai hasil pengecekan.
Rumus yang saya pakai akhirnya seperti ini:
C2 - Nama Item
=IF(B2="";"";IFERROR(VLOOKUP(B2;Master!A:G;7;FALSE);""))
D2 - ID Item
=IF(B2="";"";IFERROR(VLOOKUP(B2;Master!A:F;6;FALSE);""))
E2 - Brand
=IF(B2="";"";IFERROR(VLOOKUP(B2;Master!A:I;9;FALSE);""))
F2 - Kondisi
=IF(B2="";"";IFERROR(VLOOKUP(B2;Master!A:K;11;FALSE);""))
Dengan cara ini, kalau ada data yang tidak ditemukan di Master, saya masih bisa mengisi manual di baris tertentu.
Untuk kondisi data inventaris yang masih perlu dirapikan, cara ini terasa lebih aman.
Menandai Data di Master Jika Sudah Diproses
Setelah data dari Master ditarik ke sheet ruangan, saya ingin di sheet Master ada tanda otomatis.
Misalnya nomor 280 di Master adalah item tertentu. Kalau nomor 280 sudah dimasukkan ke sheet 1RuangRapat, maka cell nomor 280 di sheet Master otomatis berubah warna.
Tujuannya agar saya tahu item mana yang sudah diproses dan item mana yang belum.
Caranya menggunakan Format Bersyarat atau Conditional Formatting.
Format Bersyarat untuk Satu Sheet Ruangan
Misalnya sheet Master kolom A adalah No, dan sheet 1RuangRapat kolom B adalah No Urut Data Utama. Saya ingin jika Master!A2 ditemukan di 1RuangRapat!B:B, maka cell tersebut berubah warna.
Awalnya saya mencoba rumus seperti ini:
=COUNTIF('1RuangRapat'!B:B;$A2)>0
Tapi ternyata Google Sheets tidak mengizinkan format bersyarat langsung mengambil referensi dari sheet lain.
Solusinya adalah memakai INDIRECT.
Rumus yang berhasil:
=COUNTIF(INDIRECT("'1RuangRapat'!B:B");$A2)>0
Langkahnya:
- Buka sheet
Master. - Blok rentang data yang ingin diberi warna, misalnya:
A2:A620
- Klik menu:
Format → Format bersyarat
- Pada bagian aturan, pilih:
Formula khususnya adalah
- Masukkan rumus:
=COUNTIF(INDIRECT("'1RuangRapat'!B:B");$A2)>0
- Pilih warna, misalnya hijau.
- Klik selesai.
Sekarang, kalau nomor di Master sudah ada di sheet 1RuangRapat, maka cell nomor tersebut akan berubah warna.
Kenapa Saya Pakai A2:A620?
Awalnya saya ingin memakai rentang seperti ini:
A2:A
atau untuk satu baris penuh:
A2:CM
Tapi di bagian format bersyarat, kadang Google Sheets menolak dan muncul pesan:
Masukkan rentang yang valid
Saya juga sempat mencoba:
A2:CM9999
Tetapi tetap tidak bisa.
Kemungkinan karena kolom terakhir yang tersedia atau terbaca di sheet belum sampai CM, atau format rentangnya belum diterima di bagian format bersyarat.
Karena data saya saat ini hanya sekitar 600-an baris, akhirnya saya pakai rentang yang lebih aman:
A2:A620
Artinya, yang berubah warna hanya kolom No, dari baris 2 sampai 620.
Untuk kebutuhan awal, ini sudah cukup. Yang penting saya bisa melihat nomor mana saja yang sudah diproses.
Menambahkan Sheet Ruangan Lain
Setelah berhasil untuk 1RuangRapat, saya ingin menambahkan sheet lain, misalnya:
38RuangServer
Kalau semua sheet ingin diberi warna yang sama, rumusnya bisa digabung memakai OR.
Contohnya:
=OR(COUNTIF(INDIRECT("'1RuangRapat'!B:B");$A2)>0;COUNTIF(INDIRECT("'38RuangServer'!B:B");$A2)>0)
Artinya:
Jika nomor di Master!A2 ditemukan di sheet 1RuangRapat atau 38RuangServer, maka cell tersebut akan berubah warna.
Rumus ini cocok kalau semua ruangan ingin diberi warna yang sama.
Memberi Warna Berbeda untuk Tiap Sheet Ruangan
Setelah dicoba, saya merasa akan lebih enak kalau setiap sheet ruangan punya warna berbeda.
Misalnya:
1RuangRapat= hijau38RuangServer= kuning atau warna lain
Kalau ingin warna berbeda, jangan memakai rumus OR.
Caranya adalah membuat beberapa aturan Format Bersyarat.
Aturan 1: 1RuangRapat Warna Hijau
Di sheet Master, buat aturan format bersyarat.
Terapkan ke rentang:
A2:A620
Formula khususnya:
=COUNTIF(INDIRECT("'1RuangRapat'!B:B");$A2)>0
Pilih warna hijau, lalu klik selesai.
Aturan 2: 38RuangServer Warna Lain
Tambahkan aturan baru.
Terapkan ke rentang:
A2:A620
Formula khususnya:
=COUNTIF(INDIRECT("'38RuangServer'!B:B");$A2)>0
Pilih warna lain, misalnya kuning, lalu klik selesai.
Dengan cara ini, nomor item di Master akan berubah warna sesuai sheet ruangan tempat nomor tersebut dipakai.
Kalau nanti ada sheet lain, tinggal tambah aturan baru lagi.
Misalnya:
=COUNTIF(INDIRECT("'NamaSheetLain'!B:B");$A2)>0
Lalu pilih warna lain sesuai kebutuhan.
Catatan tentang Nama Sheet
Saya memakai nama sheet tanpa spasi, misalnya:
1RuangRapat
38RuangServer
Menurut saya ini lebih aman dan mudah dipakai di rumus.
Tapi walaupun tanpa spasi, saya tetap menulis nama sheet di dalam tanda petik seperti ini:
INDIRECT("'1RuangRapat'!B:B")
Ini untuk menghindari error, terutama karena nama sheet diawali angka.
Jika Satu Nomor Muncul di Dua Sheet
Idealnya, satu nomor item hanya masuk ke satu sheet ruangan.
Tapi kalau ternyata satu nomor masuk di dua sheet sekaligus, warna yang tampil bisa mengikuti aturan format bersyarat yang posisinya lebih atas atau lebih dominan di daftar aturan.
Jadi untuk menjaga data tetap rapi, saya harus hati-hati agar satu nomor tidak tercatat di dua ruangan berbeda, kecuali memang sedang dalam proses pengecekan.
Alur Kerja yang Saya Pakai
Setelah beberapa kali coba dan error, alur kerja yang saya pakai kira-kira seperti ini:
- Siapkan sheet
Masterdari database item. - Siapkan sheet
Daftar_Ruangan. - Beri nomor dan nama untuk tiap ruangan agar mudah dilacak.
- Lakukan pengecekan fisik ke tiap ruangan.
- Catat hasil pengecekan secara manual di tabel/form pendataan.
- Masukkan hasil catatan tersebut ke sheet
Cek_Fisikatau sheet ruangan. - Input data tidak harus urut dari ruangan nomor 1, tetapi mengikuti ruangan mana yang sudah selesai dicek lebih dulu.
- Buat dropdown kode ruangan di sheet
Cek_Fisik. - Buat nama ruangan otomatis muncul berdasarkan kode ruangan.
- Buat sheet per ruangan, misalnya
1RuangRapatdan38RuangServer. - Isi
No Urut Data Utamadi sheet ruangan. - Nama item, ID item, brand, dan kondisi otomatis ditarik dari sheet
Master. - Jika data tidak ditemukan di
Master, isi manual di cell tertentu. - Di sheet
Master, buat format bersyarat untuk menandai nomor yang sudah diproses. - Jika ingin beda warna tiap ruangan, buat aturan format bersyarat masing-masing sheet.
Dengan alur ini, pekerjaan menjadi lebih masuk akal. Saya tidak langsung memaksa data di spreadsheet harus benar semua. Saya mulai dari kondisi nyata dulu, lalu membandingkannya dengan database utama.
Kesimpulan Sementara
Dari proses ini saya belajar bahwa merapikan data inventaris tidak cukup hanya dengan melihat data di sistem. Tetap harus dicocokkan dengan kondisi nyata di ruangan.
Google Spreadsheet cukup membantu untuk tahap awal, terutama untuk:
- membuat dropdown kode ruangan,
- menarik nama ruangan otomatis,
- mengambil data item dari database utama,
- menandai data yang sudah diproses,
- dan memudahkan pengecekan per ruangan.
Penomoran ruangan juga cukup membantu. Jadi meskipun input data tidak harus urut dari ruangan nomor 1, setiap data tetap bisa dilacak berdasarkan nomor dan nama ruangan yang sudah dibuat sebelumnya.
Untuk data yang sudah rapi, ARRAYFORMULA memang enak karena otomatis. Tapi untuk data inventaris yang masih banyak kemungkinan tidak cocok antara database dan kondisi fisik, rumus biasa per baris lebih fleksibel karena masih bisa diisi manual jika diperlukan.
Ini baru tahap awal. Setidaknya saya mulai punya alur yang lebih jelas untuk merapikan data inventaris kantor pelan-pelan, dimulai dari pendataan per ruangan, lalu dicocokkan dengan database utama.
Semoga catatan ini bermanfaat, terutama buat saya sendiri kalau nanti lupa langkah-langkahnya.













